A. Pengkajian
1. Identitas
a. Klien
Usia → Umumnya 90 % dijumpai pada kasus anak. Enam kasus pertahun setiap 100.000 anak terjadi pada usia kurang dari 14 tahun.
Jenis Kelamin → Rasio laki-laki dan perempuan untuk resiko Nefrotik Syndrom yaitu 2 : 1.
b. Penanggung Jawab Klien
Yang terpenting Alamat, Pekerjaan dan Hubungan dengan klien.
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Biasanya napsu makan menurun, badan bengkak(edema), penurunan pola berkemih, dll.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Penjelasan dari keluhan utama berpola PQRST.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Edema masa neonatus, malaria, riwayat GNA dan GNK, terpapar bahan kimia.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan lingkungan keluarga tempat tinggal klien karena jika lingkungan Endemik malaria sering terjadi kasus Nefrotik Syndrom.
Kaji kelainan gen autosom resesif. Kelainan ini tidak dapat ditangani dengan terapi biasa dan bayi biasanya mati pada tahun pertama atau dua tahun setelah kelahiran.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
TTV, BB, TB, lingkar kepala, lingkar dada (terkait dgn edema ).
b. Sistem Perkemihan
Kaji frekuensi buang air kecil, warna dan jumlahnya biasanya Urine/24 jam 600-700 ml, hematuri, proteinuria, oliguri.
c. Sistem Pernafasan
Kaji pola bernafas, adakah wheezing atau ronki, retraksi dada, cuping hidung.
d. Sistem Kardiovaskuler
Kaji Irama dan kualitas nadi, bunyi jantung, ada tidaknya cyanosis, diaphoresis.
e. Sistem Pencernaan
Auskultasi bising usus, palpasi adanya hepatomegali / splenomegali, adakah mual, muntah. Kaji kebiasaan buang air besar, bisanya terjadi diare atau konstipasi.
Selain itu juga terjadinya napsu makan menurun, anoreksia, hepatomegali, nyeri daerah perut, malnutrisi berat, hernia umbilikalis, prolaps anii.
f. Sistem Integumen
Adanya Edema periorbital, ascites.
g. Sistem Persyarafan
Tingkat kesadaran, tingkah laku ( mood, kemampuan intelektual,proses pikir ), sesuaikah dgn tumbang? Kaji pula fungsi sensori, fungsi pergerakan dan fungsi pupil.
4. Diagnosa Keperawatan
a. D.x.1 Kelebihan volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.
Tujuan: volume cairan tubuh akan seimbang dengan kriteria hasil penurunan edema, ascites, kadar protein darah meningkat, output urine adekuat 600 – 700 ml/hari, tekanan darah dan nadi dalam batas normal.
No | Intervensi | Rasional |
1 | Catat intake dan output secara akurat. | Evaluasi harian keberhasilan terapi dan dasar penentuan tindakan |
2 | Kaji dan catat tekanan darah, pembesaran abdomen, BJ urine. | Tekanan darah dan BJ urine dapat menjadi indikator regimen terapi |
3 | Timbang berat badan tiap hari dalam skala yang sama. | Estimasi penurunan edema tubuh |
4 | Berikan cairan secara hati-hati dan diet rendah garam. | Mencegah edema bertambah berat |
5 | Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari. | Pembatasan protein bertujuan untuk meringankan beban kerja hepar dan mencegah bertamabah rusaknya hemdinamik ginjal. |
b. D.x.2 Perubahan nutrisi ruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu makan.
Tujuan kebutuhan nutrisi akan terpenuhi dengan kriteria hasil napsu makan baik, tidak terjadi hipoprtoeinemia, porsi makan yang dihidangkan dihabiskan, edema dan ascites tidak ada.
No | Intervensi | Rasional |
1 | Catat intake dan output makanan secara akurat. | Monitoring asupan nutrisi bagi tubuh |
2 | Kaji adanya anoreksia, hipoproteinemia, diare. | Gangguan nuirisi dapat terjadi secara perlahan. Diare sebagai reaksi edema intestinal |
3 | Pastikan anak mendapat makanan dengan diet yang cukup. | Mencegah status nutrisi menjadi lebih buruk. |
c. D.x.3 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunitas tubuh yang menurun.
Tujuan tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil tanda-tanda infeksi tidak ada, tanda vital dalam batas normal, ada perubahan perilaku keluarga dalam melakukan perawatan.
No | Intervensi | Rasional |
1 | Lindungi anak dari orang-orang yang terkena infeksi melalui pembatasan pengunjung. | Meminimalkan masuknya organisme. |
2 | Tempatkan anak di ruangan non infeksi. | Mencegah terjadinya infeksi nosokomial. |
3 | Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan. | Mencegah terjadinya infeksi nosokomial. |
4 | Lakukan tindakan invasif secara aseptik. | Membatasi masuknya bakteri ke dalam tubuh. Deteksi dini adanya infeksi dapat mencegah sepsis. |
d. D.x.4 Kecemasan anak berhubungan dengan lingkungan perawatan yang asing (dampak hospitalisasi).
Tujuan kecemasan anak menurun atau hilang dengan kriteria hasil kooperatif pada tindakan keperawatan, komunikatif pada perawat, secara verbal mengatakan tidak takur.
No | Intervensi | Rasional |
1 | Validasi perasaan takut atau cemas. | Perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk tebuka sehingga dapat menghadapinya. |
2 | Pertahankan kontak dengan klien. | Memantapkan hubungan, meningkatan ekspresi perasaan. |
3 | Upayakan ada keluarga yang menunggu. | Dukungan yang terus menerus mengurangi ketakutan atau kecemasan yang dihadapi. |
4 | Anjurkan orang tua untuk membawakan mainan atau foto keluarga | Meminimalkan dampak hospitalisasi terpisah dari anggota keluarga. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar