NAMA : YAYAN SRI SURYANI
NIM :05200ID09157
KELAS :2D
ASUHAN KEPERAWATAN
PIELONEFRITIS
1. Pengkajian
Dalam melakukan pengkajian pada klien pielonefritis menggunakan pendekatan bersifat menyeluruh yaitu :
A. Data biologis meliputi :
1. Identitas Klien
nama :
usia / tanggal lahir *) :
jenis kelamin *) :
suku bangsa :
status pernikahan :
agama :
pekerjaan :
diagnosa medik :
tanggal masuk :
tanggal pengkajian :
no. cm :
2. Identitas penanggung
nama :
usia :
jenis kelamin :
alamat :
pekerjaan / sumber penghasilan :
hubungan dengan klien :
B. Riwayat kesehatan :
1. Keluhan utama
Keluhan yang paling dirasakan oleh klien saat dikaji.
2. Riwayat kesehatan sekang
Penjelasan dari keluhan utama, diuraikan dalam konsep PQRST.
3. Riwayat kesehatan dahulu
Mengidentifikasi riwayat kesehatan yang memiliki hubungan dengan atau memperberat keadaan penyakit yang sedang diderita saat ini.
4. Riwayat kesehatan keluarga
Mengidentifikasi apakah di keluarga ada riwayat penyakit menular atau turunan atau keduanya.
1) Bila ditemukan riwayat penyakit menular, dibuat struktur keluarga dimana diidentifikasi individu-individu yang tinggal serumah. Tidak dalam bentuk genogram.
2) Bila ditemukan riwayat penyakit turunan, dibuat genogram dalam minimal tiga generasi.
C. Pengkajian fisik :
1. Umum
2. Tanda-tanda vital
3. Sistem Perkemihan,khusus pada sistem perkemihan seperti di lakukan tindakan seperti berikut: -Palpasi kandung kemih
-Infeksi darah meatus
a. Pengkajian warna, jumlah, bau dan kejernian urine
b. Pengkajian pada costovertebralis
4. Sistem Penglihatan
5. Sistem Pendengaran
6. Sistem Pernafasan
7. Sistem Kardiovaskuler
8. Sistem Endokrin
9. Sistem Genetalia
10. Sistem Muskuluskeletal
11. Sistem Integumen
12. Sistem Syaraf
D. Pola Aktifitas Sehari-hari
a. Nutrisi
1.Kaji jumlah,cara ,jenis cairan yang biasa diminum pasien dan perbedaan frekuensi minum klien sebelum masuk rumah sakit dan saat di rawar di rumah sakit.
2. Kaji jumlah,cara ,jenis makanan yang biasa dimakan pasien dan perbedaan frekuensi makan klien sebelum masuk rumah sakit dan saat di rawar di rumah sakit.
b. Eliminasi
1) Kaji frekuensi, urgensi, dan jumlah urine output.
2) Kaji perubahan warna urin.
3) Kaji adanya darah dalam urin.
4) Disuria; kapan keluhan ini terjadi : pada saat urinasi, pada awal urinasi, atau akhir urinasi.
5) Hesitancy; mengedan nyeri selama atau sesudah urinasi.
6) Konstipasi dapat menyumbat sebagian urethra, menyebabkan tidak adekuatnya pengosongan kandung kemih.
c. Istirahat
d. Personal Higiene
E. Data Psikologis, Sosial dan Spiritual.
a. Data Psikologis
Dalam data psikologis terdiri dari status emosi,kecemasan,pola koping,gaya komunikasi dan konsep diri (gambaran diri,harga diri,dll)
b. Data Sosial
dalam data sosial Berisi hubungan dan pola interaksi klien dengan keluarga dan masyarakat.
c) Data Spiritual
Mengidentifikasi tentang keyakinan hidup, optimisme terhadap kesembuhan penyakit, gangguan dalam melaksanakan ibadah.
2. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipertermi, perubahan membran mukosa, kurang nafsu makan
2. Nyeri akut b.d proses peradangan / infeksi
3. Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi
4. Ansietas b.d hematuria, kurang pengetahuan tentang penyakit dan tujuan pengobatan
5. Gangguan pola tidur b.d hipertermi, nyeri
6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum
7. Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat
3. Perencanaan
Dp. 1 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipertermi, perubahan membran mukosa, kurang nafsu makan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nafsu makan bertambah.
Batasan karateristik :
Subjektif : kram abdomen, melaporkan perubahan sensasi rasa, merasa kenyang setelah mengingesti makanan, merasakan ketidakmampuan mengingesti makanan.
Objektif : adanya bukti kekurangan makanan, bising usus hiperaktif, konjungtiva dan membran mukosa pucat, tonus otot buruk.
Kriteria Hasil : menunjukkan status gizi : asupan makanan, cairan dan zat gizi.
Intervensi :
No Intervensi Rasionalisasi
1
2
3
4
5
6 Mandiri
Pantau / catat permasukan diet
Tawarkan perawatan mulut sering/cuci dengan larutan (25%) cairan asam asetat. Berikan permen karet, permen keras, penyegar mulut diantara makan
Berikan makanan sedikit tapi sering
Kolaborasi :
Konsul dengan ahli gizi/tim pendukung nutrisi
Batasi kalium, natrium dan pemasukan fosat sesuai indikasi
Awasi pemeriksaan labiratorium, contoh; BUN, albumin serum, transferin, natrium dan kalium.
Membantu dan mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. Kondisi fisik umum, gajala uremik (contoh : mual, anoreksia, gangguan rasa) dan pembatasan diet multiple mempengaruhi pemasukan makanan.
Mambran mukosa menjadi kering dan pecah. Perawatan mulut menyejukkan, meminyaki dan membantu menyegarkan rasa mulut yang sering tidak nyaman pada uremia dan membatasi pemasukan oral. Pencucian dengan asam asetat membantu menetralkan amonea yang dibentuk oleh perubahan urea.
Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik/menurunnya paristaltik
Menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan,dan mengidentifikasi rute paling efektif dan produknya, contoh tambahan oral, makanan selang hiperalimentasi
Pembatasan elektrolit ini dibutuhkan untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut, khususnya bila dialisis tidak menjadi bagian pengobatan, dan atau selama fase penyembuhan.
Indikator kebutuhan nutrisi, pembatasan, dan kebutuhan / efektivitas terapi.
Dp. 2 : Nyeri akut b.d proses peradangan, infeksi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nyaman dan nyerinya berkurang.
Batasan karakteristik: kegelisahan, perilaku melindungi, perilaku menjaga, kandung kemih tegang
Subjektif : keletihan
Objektif : perubahan kemampuan untuk meneruskan aktifitas sebelumnya, perubahan pola tidur, penurunan interaksi dengan orang lain, perubahan berat badan.
Kriteria Hasil : Tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih, kandung kemih tidak tegang, tenang, tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah, tidak ada posisi tubuh, tidak ada kegelisahan, tidak ada kehilangan nafsu makan.
Intervensi :
No Intervensi Rasionalisasi
1
2
3
4
5
6
7
8
9 Mandiri :
Pantau intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri
Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran.
Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi
Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, bau dan pola berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang
Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan punggung, lingkungan istirahat
Berikan perawatan parineal
Kolaborasi :
Konsul dokter bila : sebelumnya kuning gading urine kuning, jingga gelap, berkabut atau keruh. Pla berkemih berubah, sering berkemih dengan jumlah sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih. Nyeri menetap atau bertambah sakit
Berikan analgesic sesuia kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya
Berikan antibiotic. Buat berbagi variasi sediaan minum, termasuk air segar. Pemberian air sampai 2400 ml/hari
Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi
Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot – otot
Untuk membantu klien dalam berkemih
Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang di harapkan
Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot
Untuk mencegah kontaminasi uretra
Temuan – temuan ini dapat memberi tanda kerusakan jaringan lanjut dan perlu pemeriksaan luas
Analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri
Akibat dari haluran urin memudahkan berkemih sering dan membantu membilas saluran berkemih
Dp. 3 : Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam demam pasien berkurang
Batasan Karakteristik : suhu tubu meningkat di atas rentang normal, frekuensi napas meningkat, kulit hangat bila disentuh, kadang merasa mual.
Kriteria Hasil :hilangnya rasa mual, suhu tubuh kembali normal, nafas normal dan suhu kulit lembab
Intervensi :
No Intervensi Rasionalisasi
1
2
3
4
5
Mandiri :
Pantau suhu pasien (drajat dan pola) ; perhatikan menggigil/diaforesis
Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi
Berikan kompres mandi hangat; hindari penggunaan alkohol
Berikan selimut pendingin
Kolaborasi :
Berikan antipiretik, misalnya ASA (aspirin), asetaminofen (tylenol)
Suhu 38,90 – 41,10 C menunjukkan proses penyakit infeksius akut
Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal.
Dapat membantu mengurangi demam. Catatan : penggunaan air es/alkohol mungkin menyebabakan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual. Selain itu alkohol dapat mengeringkan kulit.
Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,50-400 C pada waktu terjadi kerusakan/ gangguan otak.
Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotelamus. Meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme. Dan meningkatkan autodestruksi dari sel-sel yang terinfeksi
Dp. 4 : Ansietas b.d hematuria, kurang pengetahuan tentang penyakit dan tujuan pengobatan
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam cemas pasien Hilang dan tidak memperlihatkan tanda-tanda gelisa
Batasan Karakteristik : klien gelisah, tidak tenang, tanda vital abnormal, gelisah, ketakutan, gangguan tidur.
Kriteria Hasil : tenang, gelisa berkurang, ketakutan berkurang, dapat beristirahat, frekuensi nafas 12-24/menit
Intervensi :
No Intervensi Rasionalisasi
1
2
3
4 Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya
Pantau tingkat kecemasan
Beri dorongan spiritual
Beri penjelasan tentang penyakitnya Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan
Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien
Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada tuhan YME
Agar klien mengerti sepenuhnya dengan penyakit yang di alaminya.
Dp. 5 : Gangguan pola tidur b.d hipertermi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa tidur dengan nyenyak.
Batasan karakteristik :
Subjektif : ketidak puasan tidur, keluhan verbal tentang kesulitan untuk tidur, keluhan verbal tentang perasaan tidak dapat beristirahat dengan baik.
Objektif : total waktu tidur kurang dari lama tidur normal, bangun 3 kali atau lebih di malam hari
Kriteria Hasil : jumlah jam tidur tidak terganggu, perasaan segar setelah tidur atau istirahat, terjaga denganwaktu yang sesuai
Intervensi :
No Intervensi Rasionalisasi
1
2
3
4
5 Mandiri :
Instruksikan tindakan relaksasi
Hindari mengganggu bila mungkin, mis : membangun untuk obat atau terapi
Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi
Dorong posisi nyaman, bantu dalam megubah posisi
Kolaborasi :
Berikan sedatif, hipnotik, sesuai indikasi
Membantu menginduksi tidur
Tidur tanpa gangguan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun
Mengkaji perlunya mengidentifikasi intervensi yang tepat.
Perubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istirahat
Mungkin di berikan untuk membantu pasien tidur/istirahat selama periode dari rumah ke lingkungan baru. Catatan : hindari penggunaan kebiasaan, karena ini menurunkan waktu tidur.
Dp. 6 : Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien toleran aktifitas.
Batasan Karakteristik :
Subjektif : ketidaknyamanan, melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal
Objektif: denyut jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktivitas
Kriteria Hasil : mengidentifikasi aktifitas dan atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi aktivitas.
Intervensi :
No Intervensi Rasionalisasi
1
2 Mandiri :
Bantu aktivitas perawatan diri yang di perlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktifitas selama fase penyembuhan.
Evaluasi respon pasien terhadap aktifitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas
Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen
Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pemilihan intervensi.
Dp. 7 : Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat
Batasan Karakteristik :
Subjektif :
Objektif : penurunan turgor kullit/lidah, konsentrasi urine meningkat, kulit/ mambran mukosa kering.
Kriteria hasil :tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebih, memiliki keseimbangan asupan Dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam.
Intervensi :
No Intervensi Rasionalisasi
1
2
3
4
5
6
Mandiri :
Ukur dan catat urine setiap kali berkemih
Pastikan kontinuitas kateter pirau/ akses
Tempatkan pasien pada posisi telentang/tredelenburg sesui kebutuhan
Pantau mambran mukosa kering, torgor kulit yang kurang baik, dan rasa haus
Kolaborasi :
Awasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
~ Hb/Ht
~ Elektrolit serum dan Ph
~ Waktu pembekuan, contoh ACT, PT/PTT, dan Jumlah trombosit
Berikan cariran IV (contoh, garam faal)/ volume ekspender (contoh albumin)selama dialisa sesuai idikasi
Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/output
Terputusnya pirau/ akses terbuka akan memungkinkan eksanguinasi
Memaksimalkan aliran balik vena bila terjadi hipotensi
Hipovolemia/cairian ruang ketiga akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi
~ Menurun karena anemia, hemodilusi atau kehilangan darah aktual.
~ Ketidak seimbangan dapat memerlukan perubahan dalam cairan dialisa atau tambahan pengganti untuk mencapai keseimbangan
~ Penggunaan heparin untuk mencegah pembekuan pada aliran darah dan hemofilter mengubah koagulasi dan potensial darah aktif.
Cairan garam faal/dekstrosa, elektrolit, dan NaHCO3 mungkin diinfuskan dalam sisi vena hemofelter Cav bila kecepatan ultrafiltrasi tinggi digunakan untuk membuang cairan ekstraseluler dan cairan toksik. Volume ekspender mungkin dibutuhkan selama/setelah hemodialisa bila terjadi hipotensi tiba-tiba nya!!
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : EGC
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keprawatan. Edisi 7. Jakarta : EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar